Semangat Kartini Bergema di SMK Muhammadiyah 2 Boja: Perempuan Berdaya, Berkarya, dan Berakhlak

– Peringatan Hari Kartini di SMK Muhammadiyah 2 Boja, Selasa (21/4/2026), tak sekadar seremoni.
Dari lapangan upacara hingga panggung kreativitas, semangat emansipasi perempuan bergema—menguatkan peran perempuan masa kini yang setara, berdaya, namun tetap berakar pada nilai-nilai keislaman.

Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang berlangsung khidmat, mengingatkan kembali perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan untuk belajar dan berkarya.
Usai upacara, suasana berubah semarak melalui fashion show antar jurusan dan lomba kuliner, menghias menu nasi goreng sebagai simbol bahwa keterampilan domestik seperti memasak bukanlah batasan, melainkan potensi yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan kreativitas—baik oleh perempuan maupun laki-laki.yang diikuti para siswa dengan penuh antusias.

Dalam fashion show, para peserta menampilkan busana yang memadukan nilai tradisional dan modernitas.
Kebaya, batik, hingga busana muslimah kreatif tampil di atas panggung, merepresentasikan sosok perempuan yang anggun, percaya diri, sekaligus berprinsip.
Sementara itu, lomba kuliner menjadi ruang ekspresi lain bagi siswa untuk menunjukkan keterampilan dan kemandirian.

Menu nasi goreng disajikan dengan sentuhan inovasi, mencerminkan bahwa laki-laki maupun perempuan masa kini tidak hanya identik dengan dapur, tetapi juga mampu berinovasi dan berdaya secara ekonomi.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Tugiman, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai kesetaraan yang selaras dengan ajaran Islam.
“Semangat Kartini harus kita maknai secara utuh. Perempuan hari ini harus berani maju, berpendidikan, dan mandiri, tetapi tetap menjaga akhlak dan nilai-nilai Islam sebagai pondasi utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesetaraan gender di era kekinian bukan berarti menanggalkan jati diri, melainkan membuka ruang yang adil bagi perempuan untuk berkembang tanpa kehilangan nilai moral dan spiritual.

“Islam sendiri telah memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk berperan di berbagai bidang. Tugas kita adalah menguatkan itu dalam praktik kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Salah satu siswi peserta, mengaku bangga bisa terlibat dalam kegiatan tersebut.
Baginya, Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki peluang yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan.
“Sebagai perempuan, saya merasa lebih percaya diri. Kita bisa sekolah tinggi, bekerja, bahkan berwirausaha, tapi tetap menjadi pribadi yang santun dan menjaga nilai agama,” tuturnya.
Melalui peringatan ini, pihak sekolah berharap nilai-nilai perjuangan Kartini terus hidup dalam diri siswa—bukan hanya dalam simbol dan perayaan, tetapi dalam sikap, keberanian, dan kontribusi nyata.
Semangat perempuan berdaya yang cerdas, mandiri, dan berakhlak diharapkan menjadi fondasi kuat dalam menghadapi tantangan zaman.